Apa itu disfungsi sensori integrasi pada anak? - tipshamil.id

Apa itu disfungsi sensori integrasi pada anak?

Disfungsi sensori integrasi pada anak, apa sih sebenarnya? Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling kompleks karena terdiri dari banyak elemen yang harus terintegrasi. Itu kenapa begitu banyak hal yang bisa dipelajari dari pengasuhan dan tumbuh kembang anak.

Lalu apa itu sensori integrasi? Ibarat sebuah ‘remote control’ dari semua informasi yang masuk ke indera kita, dia yang akan mengintegrasikan sensori mana saja yang harus bekerja untuk merespons terhadap situasi tertentu.

Sistem indera manusia sendiri terdiri dari 7 indera. Yakni indera penglihatan, indera penciuman, indera pendengaran, indera pengecap, indera peraba adalah 5 yang mendapat rangsangan dari luar. Sementara 2 lainnya mendapat rangsangan dari dalam tubuh; yakni, indera vestibular dan indera proprioseptif. Semua sistem sensori kita, harus terintegrasi dengan baik agar dapat berespons secara adaptif di lingkungan.

Misalnya ada sebuah mainan berbunyi di hadapan seorang bayi, semua sistem indera akan bekerja sama merespons. Indera penglihatan akan melihat benda. Indera vestibular yaitu merangkak dan mendekati benda. Serta indera proprioseptif yang akan membantu mengatur jarak antara tangan bayi dan mainan untuk dapat meraihnya dengan tepat.

Pertanyaannya, lalu apakah bisa sensori integrasi ini mengalami disfungsi atau kurang bekerja dengan baik? Ternyata bisa, masalah sensori adalah kesulitan seseorang dalam mengolah informasi menjadi perilaku yang tepat sesuai dengan informasi yang masuk. Jadi, anak yang mengalami hal ini bisa bereaksi secara berlebihan atau tidak bereaksi sama sekali terhadap informasi sensori yang diterima.

Perlu dikertahui bahwa integrasi dari indera-indera kita dalam menerima dan mengelola informasi yang diterima dapat mempengaruhi perilaku, persepsi, emosi bahkan kognisi kita. Hal tersebut juga yang terjadi dengan anak-anak kita. Jadi, jika Anda merasa anak sering mengekspresikan emosi secara meledak-ledak, bisa jadi itu disebabkan ia memiliki isu sensori.

Masalah sensori dapat dialami siapa saja, termasuk orang dewasa. Namun, tidak usah panik, sebab masalah ini baru bisa dikatakan sebagai gangguan ketika dampaknya berlarut-larut dan menimbulkan masalah kesehatan. Perlu diingat, gejala-gejala masalah sensori seperti tidak suka bahan baju tertentu, tantrum, impulsif tidak bisa dikatakan masalah sensori integrasi jika dialami anak usia 1,5 – 3 tahun, yang memang masih wajar terjadi di usianya.

Komentar